AMONG SI TUKANG
SAYUR DESAKU
Dusun Kalilanang Desa
Selodono Kecamatan Ringinrejo Kab. Kediri adalah Dusun yang jumlah penduduknya
cukup padat. Mata pencaharian dari setiap warga berbeda-beda, ada yang Jualan
pentol, Jualan kebutuhan pokok, beternak unggas, kesawah, kerja di pabrik, di
warung dan juga ada yang pengangguran. Salah satu pengangguran saat ini adalah
saya sendiri. Kenapa saya menganggur? Karena di tempat kerja saya yang
sebelumnya hasil kerja keras saya tidak dihargai sedangkan istri, anak dan
keluarga lainnya sangat mengharapkan saya pulang membawa rizki. Namun dalam
kisah saya kali ini bukanlah soal saya yang menganggur. Tetapi saya manfaatkan
waktu nganggur di bulan puasa ini tepatnya tanggal 11 ramadhan 1436 H ini untuk
menceritakan sebuah kisah perjalanan hidup seorang tukang sayur “ Among “
namanya.
Al kisah
Among adalah salah satu
putra kalilanang dari keluarga sederhana yang penuh kerja keras. Ayahnya
bernama bapak Soim dan Ibunya bernama Bek Waroh panggilan akrapnya. Ayah Among
dahulu adalah pedagang sayur pertama yang berjualan di desaku sebagai tukang
Etek panggilannya. Dalam berjualan menggunakan sepeda kayuh dan disetiap
memanggil pelanggannya menggunakan bahasa pantun dengan suara keras dan lucu
menurut warga, sehingga dapat menarik perhatian warga untuk membeli sayur mayur
dan kebutuhan pokk lainnya yang ada di tempat pak soim. Al hasil lambat laun
usahanya membuahkan hasil. Sedang ibunya Among adalah Penjual Jajanan di
sekolah MI Al-Huda dimana saya dahulunya belajar di situ selama 6 tahun. Saya
sering ketemu bek waroh karena saya sering jajan di tempatnya dan anaknya yang
bernama Anwar adalah teman sekelasku. Kami sering bermain bareng dan belajar
kelompok bareng. Among dalam keluarganya masih mempunyai adi perempuan pula yang
juga akan mewarisi sifat berdagang keluarganya. Kembali kepada kisah Among,
rutinitas Among dalam berjualan inilah yang membuat warga suka membeli
dagangannya. Among setiap pagi antara pukul 03.00 WIB berangkat menuju ke pasar
sambi yang jaraknya kurang lebih 5 km dari desa kami. Dengan mengendarai Tosa
(motor roda tiga) selalu terdengar di telinga masyarakat yang di lewati
kendaraan Among yang menandakan Among berangkat ke pasar dan waktu menunjukkan
pukul 3 pagi. Bagi yang rajin ibadah waktu keberangkatan Among ke pasar di
syukuri karena dapat membangunkannya di sepertiga malam untuk menjalankan
shalat tahajud dan sebagainya.
Di pasar Among membeli
sayur mayur dan kebutuhan lainnya yang di perlukan oleh pembellinya setiap hari
sehingga diharapkan dagangannya bisa lekas habis dan meraih keuntungan. Setelah
dirasa cukup kebutuhan belanja maka saatnya bagi Among untuk menjajakan
dagangannya keliling dari pasar samba hingga pasar Karangrejo yang merupakan
pasar di mana Among juga membuka lapak di sana. Among sampai di tempat kami
antara pukul 05.30 WIB hingga 06.30 WIB kenapa hal itu terjadi? Karena dalam
berdagang terkadang pembeli sangat banyak sehingga perjalanannya untuk sampai
di tempat kami terhambat dan bila masih pagi sudah datang berarti pembeli berkurang
karena ada suatu sebab tertentu. Among kedatangannya sudah di tunggu pembeli
yang bertirik-tirik di tepi jalan menunggu kedatangannya. Ada yang sambil olah
raga, ada yang membawa cucunya dan ada yang tidak tahan menantinya sehingga
menyusul ke tempat di mana saat itu Among berhenti melayani pembeli.
Among dalam berjualan
sabar menghadapi pembelinya dan kesabarannya inilah yang hingga saat ini
membuahkan hasil yang suatu kelak dipetiknya bersama keluarganya. Among selalu
mengenakan baju berjaket dan sarung yang selalu di sampirkan di pundaknya dan
memakai topi ciet dari rajutan benang nilon. Setelah selesai melayani semua
pembeli yang ada, maka Among pulang terlebih dahulu untuk menyetok sayuran dan
bahan pokok lainnya untuk ibunya yang kini berjualan di rumah, sementara yang
di sekolah seperti yang saya ceritakan d gantikan oleh adiknya perempuan.
Sedangkan Anwar teman saya merantau ke luar jawa. Biasanya tepat pukul 7.30 –
8.00 WIB Among embali berangkat menuju ke arah pasar Karangrejo untuk berdagang
lagi. Dan di dalam perjalanannya masih banyak pembeli yang mengantri menunggu
Among lewat untuk berbelanja maupun menjual barang dagangan berupa jamur tiram
untuk Amung jual kembali.
Sesampainya di pasar
Karangrejo Among memarkirkan kendaraannya tepat di depan lapaknya yang
kebetulan berada di luar pasar menghadap ke barat. Ia menurunkan dagangannya
yang perlu dan membuka lapaknya serta melayani pembeli yang terkadang sudah
mengantri menunggu cukup lama. Siang hari sekitar pukul 13.00 WIB Among baru
pulang istirahat dan mempersiapkan kebutuhan untuk berdagang esok hari. Aktifitas
Among di rumah di lingkungan masyarakat adalah sebagai petugas teknisi sound
system dalam acara yasinan dan perkumpulan masyarakat lainnya.
Demikian sekelumit kisah teladan
orang yang mau berusaha dari usaha yang mendarah daging yang di tanamkan
keluarganya. “Among si Tukang sayur Desaku“
Kediri,
28 Juni 2015
Karya
: Abina Slamet

No comments:
Post a Comment