Tuesday, June 30, 2015

AMONG SI TUKANG SAYUR DESAKU






AMONG SI TUKANG SAYUR DESAKU

Dusun Kalilanang Desa Selodono Kecamatan Ringinrejo Kab. Kediri adalah Dusun yang jumlah penduduknya cukup padat. Mata pencaharian dari setiap warga berbeda-beda, ada yang Jualan pentol, Jualan kebutuhan pokok, beternak unggas, kesawah, kerja di pabrik, di warung dan juga ada yang pengangguran. Salah satu pengangguran saat ini adalah saya sendiri. Kenapa saya menganggur? Karena di tempat kerja saya yang sebelumnya hasil kerja keras saya tidak dihargai sedangkan istri, anak dan keluarga lainnya sangat mengharapkan saya pulang membawa rizki. Namun dalam kisah saya kali ini bukanlah soal saya yang menganggur. Tetapi saya manfaatkan waktu nganggur di bulan puasa ini tepatnya tanggal 11 ramadhan 1436 H ini untuk menceritakan sebuah kisah perjalanan hidup seorang tukang sayur “ Among “ namanya.
Al kisah
Among adalah salah satu putra kalilanang dari keluarga sederhana yang penuh kerja keras. Ayahnya bernama bapak Soim dan Ibunya bernama Bek Waroh panggilan akrapnya. Ayah Among dahulu adalah pedagang sayur pertama yang berjualan di desaku sebagai tukang Etek panggilannya. Dalam berjualan menggunakan sepeda kayuh dan disetiap memanggil pelanggannya menggunakan bahasa pantun dengan suara keras dan lucu menurut warga, sehingga dapat menarik perhatian warga untuk membeli sayur mayur dan kebutuhan pokk lainnya yang ada di tempat pak soim. Al hasil lambat laun usahanya membuahkan hasil. Sedang ibunya Among adalah Penjual Jajanan di sekolah MI Al-Huda dimana saya dahulunya belajar di situ selama 6 tahun. Saya sering ketemu bek waroh karena saya sering jajan di tempatnya dan anaknya yang bernama Anwar adalah teman sekelasku. Kami sering bermain bareng dan belajar kelompok bareng. Among dalam keluarganya masih mempunyai adi perempuan pula yang juga akan mewarisi sifat berdagang keluarganya. Kembali kepada kisah Among, rutinitas Among dalam berjualan inilah yang membuat warga suka membeli dagangannya. Among setiap pagi antara pukul 03.00 WIB berangkat menuju ke pasar sambi yang jaraknya kurang lebih 5 km dari desa kami. Dengan mengendarai Tosa (motor roda tiga) selalu terdengar di telinga masyarakat yang di lewati kendaraan Among yang menandakan Among berangkat ke pasar dan waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Bagi yang rajin ibadah waktu keberangkatan Among ke pasar di syukuri karena dapat membangunkannya di sepertiga malam untuk menjalankan shalat tahajud dan sebagainya.
Di pasar Among membeli sayur mayur dan kebutuhan lainnya yang di perlukan oleh pembellinya setiap hari sehingga diharapkan dagangannya bisa lekas habis dan meraih keuntungan. Setelah dirasa cukup kebutuhan belanja maka saatnya bagi Among untuk menjajakan dagangannya keliling dari pasar samba hingga pasar Karangrejo yang merupakan pasar di mana Among juga membuka lapak di sana. Among sampai di tempat kami antara pukul 05.30 WIB hingga 06.30 WIB kenapa hal itu terjadi? Karena dalam berdagang terkadang pembeli sangat banyak sehingga perjalanannya untuk sampai di tempat kami terhambat dan bila masih pagi sudah datang berarti pembeli berkurang karena ada suatu sebab tertentu. Among kedatangannya sudah di tunggu pembeli yang bertirik-tirik di tepi jalan menunggu kedatangannya. Ada yang sambil olah raga, ada yang membawa cucunya dan ada yang tidak tahan menantinya sehingga menyusul ke tempat di mana saat itu Among berhenti melayani pembeli.
Among dalam berjualan sabar menghadapi pembelinya dan kesabarannya inilah yang hingga saat ini membuahkan hasil yang suatu kelak dipetiknya bersama keluarganya. Among selalu mengenakan baju berjaket dan sarung yang selalu di sampirkan di pundaknya dan memakai topi ciet dari rajutan benang nilon. Setelah selesai melayani semua pembeli yang ada, maka Among pulang terlebih dahulu untuk menyetok sayuran dan bahan pokok lainnya untuk ibunya yang kini berjualan di rumah, sementara yang di sekolah seperti yang saya ceritakan d gantikan oleh adiknya perempuan. Sedangkan Anwar teman saya merantau ke luar jawa. Biasanya tepat pukul 7.30 – 8.00 WIB Among embali berangkat menuju ke arah pasar Karangrejo untuk berdagang lagi. Dan di dalam perjalanannya masih banyak pembeli yang mengantri menunggu Among lewat untuk berbelanja maupun menjual barang dagangan berupa jamur tiram untuk Amung jual kembali.
Sesampainya di pasar Karangrejo Among memarkirkan kendaraannya tepat di depan lapaknya yang kebetulan berada di luar pasar menghadap ke barat. Ia menurunkan dagangannya yang perlu dan membuka lapaknya serta melayani pembeli yang terkadang sudah mengantri menunggu cukup lama. Siang hari sekitar pukul 13.00 WIB Among baru pulang istirahat dan mempersiapkan kebutuhan untuk berdagang esok hari. Aktifitas Among di rumah di lingkungan masyarakat adalah sebagai petugas teknisi sound system dalam acara yasinan dan perkumpulan masyarakat lainnya.
Demikian sekelumit kisah teladan orang yang mau berusaha dari usaha yang mendarah daging yang di tanamkan keluarganya. “Among si Tukang sayur Desaku“
Kediri, 28 Juni 2015
Karya : Abina Slamet

No comments:

Post a Comment