Tuesday, June 30, 2015

masjid agung kediri 29 juni 2015 Karya ABINA SLAMET

IBUKU Karya ABINA SLAMET

AMONG SI TUKANG SAYUR DESAKU Karya ABINA SLAMET

PENGALAMAN SPIRITUAL SHADAQOH


Puji syukur Alhamdulillah saya sampaikan kehadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada hamba-hamba-Nya. Karena dengan rasa syukur itulah kita sebagai manusia akan mampu mengetahui dan memahami akan makna yang tersimpan dalam rahasia yang manusia biasa tidak akan mampu untuk menyingkapnya. Salah satu rahasia itu adalah Shadaqoh. Para pembaca yang budiman, nama saya Slamet, saya adalah seorang mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara PGRI Kediri jurusan Manajemen. Saya akan berbagi cerita tentang The Power Of Shadaqoh yang pernah terjadi pada saya. Perlu pembaca ketahui, secara ekonomi keluarga saya adalah keluarga yang saat ini berada pada posisi menengah ke bawah. Ya posisi menengah ke bawah dimana untuk makan sehari-hari kami harus banting tulang kesana kemari. Ayah dan ibu saya sudah tidak bekerja lagi sehingga kami sebagai anaklah yang harus membantunya dalam kehidupan sehari-hari. Saya adalah anak ke-3 dari pasangan suami istri Munadji dengan Mistinah. Dalam kesederhanaan saya dahulu adalah anak yang paling bandel dalam keluarga saya. Dimana ketika memasuki masa sekolah saya tidak menyelesaikan sekolah dan memilih untuk berpetualang bersama saudara ibu yaitu menarik pedati, sehingga saat ini kuliah saya jauh molornya. Teman-teman seangkatan saya sudah lulus semua.
Para pembaca yang budiman, meskipun saya dalam keadaan keluarga serba kekurangan tapi saya tidak putus semangat untuk belajar dan juga bekerja. Saya pernah hidup bersama orang jepang cukup lama dan beliaulah yang mengajari saya untuk berdisiplin dan bekerja keras. Uang hasil kerja keras itu saya gunakan untuk menambah membeli buku di saat itu. Dengan membaca buku saya menemukan apa makna dari sebuah rahasia illahi yang salah satunya adalah shadaqoh, ya shadaoh. Saya pernah juga diajari oleh guru agama saya atau tokoh masyarakat saya kalau hidup harus banyak tirakat yaitu puasa, shalat malam, shalat sunah lainnya dan syukur serta shadaqoh. Dari apa yang mereka wejangkan ke saya , saya mencoba untuk melaksanakannya. Puasa sunnah senin kamis dan shalat malam serta rutin shalat duha menjadi kebutuhan saya. Pernah suatu ketika saya sedang mau menjalankan shalat ashar di masjid Thoriqotul Jannah desa kandat. Saya tidak menemukan seorangpun di masjid untuk diajak shalat berjamaah. Maka saya berusaha untuk menunggu orang datang shalat berjamaah saya melaksanakan shalat sunnah dan dalam hati berjanji “ kalau ada orang yang datang dan bisa diajak shalat berjamaah maka saya akan memberikan sebagian riski yang saya punya kepada orang tersebut”. Ketika itu adalah hari raya idul fitri sehingga tidak banyak yang ke masjid karena sibuk urusan masing-masing. Cukup lama saya menunggu dan datanglah seorang lelaki paruh baya dengan membawa sekeranjang mainan datang ke masjid dan mau melaksanakan shalat ashar. Akhirnya saya ajak shalat berjamaah dan seusai shalat uang yang aku janjikan aku berikan kepadanya. Apa yang terjadi pembaca, orang tersebut semula enggan menerimanya uang tersebut. Namun aku menyakinkan dengan keikhlasan karena janjiku untuk memberikan kepada siapapun yang bisa diajak shalat berjamaah. Dengan senang hati akhirnya orang tersebut menerimanya dan berkata “ uang mas saya terima dan saya masukkan ke kotak amal di masjid.” . subhanallah maha besar Allah telah menolong hambanya yang meskipun kekurangan mampu untuk tetap bersyukur atas nikmatnya dan hanya mengambil uang yang menjadi haknya. Beberapa hari kemudian, saya  tidak mengira dan menyangka apa yang terjadi kepada saya. Dari anak-anak orang tua asuh saya memberikan uang kepada saya yang jumlahnya lebih banyak lagi dari apa yang telah saya sedekahkan kepada orang tersebut.
Dilain waktu saya juga masih sering melakukan shadaqoh sesuai kemampuan saya, saya berusaha selalu memberi kepada orang yang saya anggap perlu diberi, baik itu teman, orang miskin atau siapa saja. Saya dengan penghasilan yang tak lebih dari Rp.700.000,- saat ini, saya mampu menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup saya, kuliah saya dengan beli buku yang bermacam-macam, membantu orang tua dan tak lupa saya sisihkan untuk anak yatim piatu yang aku sumbangkan lewat yayasan yang diketuai oleh guru saya. Setiap bulan saya memberikan uang hasil gaji saya dan Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan hal tersebut. Saya mempunyai niatan bisa membantu mereka sampai akhir hayat saya jika Allah menghendaki. Kalaupun dari pembaca menghendaki untuk membantu anak yatim yang diasuh guru saya maka bisa menghubungi saya di nomor 085790282303 dan nanti insyaallah amanat akan saya sampaikan. Alhamdulillah dari shadaqoh ini saya bisa melanjutkan kuliah sampai sekarang tanpa harus membebankan orang tua kandung saya untuk membiayai kuliah saya. Bahkan saya mampu memenuhi apa yang menjadi permintaan saya untuk membeli barang-barang yang saya inginkan sejak dahulu.
Untuk kedepan yang menjadi impian saya adalah menemukan istri yang shaleha karena sampai detik ini Allah SWT masih menyimpan rahasia itu dan wanita-wanita yang saya sukai menolak saya. Sedangkan untuk membahagiakan orang tua saya, saya berharap bisa memberangkatkannya untuk beribadah haji. Amin-amin ya robbal ‘alamin .
Demikian pembaca apa yang dapat saya tularkan dari pengalaman shadaqoh yang pernah terjadi pada saya. Saya yakin Allah SWT akan membukakan jalannya bagi hamba-hamba-Nya yang Ikhlas dalam memohon kepada-Nya.
Shalatlah dengan berjamaah, bukalah shadaqoh dengan ikhlas, jalinlah ukhuwah islamiyah dengan saudara muslim. Insyallah akan dibukakan jalan

Created by : abinaslamet@yahoo.co.id













Penulis  : Slamet
ircisod68@yahoo.com

MISKIN JADI KAYA, KAYA JADI MISKIN



Roda kehidupan manusia selalu di uji oleh Allah SWT Tuhan sekalian umat di seluruh dunia ini. Manusia diciptakan dalam berbagai ragam kehidupan yang salah satunya adalah kondisi ekonomi yang dalam bahasa kerennya “ Kaya atau Miskin ”. Manusia memandang orang itu kaya karena berdasarkan jumlah materi yang dimilikinya yang dapat dilihat oleh mata kepala dan dapat di hitung angka serinya yang tidak terhitung alias banyak sekali uangnya. Sampai-sampai orang yang melihatnya akan tergiur dan ingin bernasib sama dengan orang kaya tersebut, meskipun akhirnya jalan pintas yang di tempuh seperti dengan mengabdi kepada makhluk Tuhan yang dalam agama itu musyrik dan sangat tidak dibenarkan oleh agama karena pasti akan banyak memakan korban Nyawa. Sedangkan orang di pandang miskin adalah karena kondisi ekonomi yang tidak layak dan tidak pantas dilihat secara kasat mata oleh orang-orang sekitarnya, kondisi rumah yang mungkin terbuat dari anyaman bamboo atau bahkan gabungan dari kardus-kardus bekas, makan bisa satu kali sudah bersyukur dan mandipun di tempat umum yang tidak layak pakai. Semua serba kekurangan dan pakaian yang dikenakan hanya itu-itu saja setiap harinya.
Kawan, apa yang kita lihat di atas tidaklah salah dan juga tidaklah benar semua. Karena kaya dan miskin sudah ada garis yang memutuskannya yaitu Allah Tuhan kita. Dari mana sudut pandang yang kita gunakan untuk melihat kaya atau miskinnya seseorang itu ditentukan. Di sini saya akan menguraikan 2 kisah nyata antara kaya atau miskin menurut kacamata ekonomi dan Tuhan.
Menurut kacamata ekonomi
Dahulu sebut saja namanya “MJTN” adalah dari keluarga biasa dan sekolahpun tidak tamat sekolah dasar. Namun karena melihat kondisi keluarganya yang mulai memprihatinkan karena kondisi ekonomi maka MJTN memutuskan untuk bekerja ke Surabaya supaya mendapatkan penghasilan yang lebih dan bisa membantu keluarga. Dengan berbekal ilmu seadanya dan di Surabaya sudah ada orang yang bisa membantunya maka MJTN berangkat dan langsung bekerja di sana. Awal kerja ikut orang sebagai tukang jualan es lilin keliling dan apapun dilakukannya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Apa yang dikerjakannya menghasilkan sesuatu uang tapi tidak begitu cukup. Tidak lama kemudian ketika sambil berjualan es lilin keliling ia bertemu seorang bule asing dari negeri Sakura. Negeri Jepang yang terkenal dahulu pernah menjajah Negara kita 3,5 tahun yang akhirnya dihancurkan negaranya  oleh sekutu dengan dibomnya Hirosima dan Nagasaki. Lelaki itu bernama Tsugio Aigo yang akhirnya dalam perjalanan waktu di ketahui pula sudah pernah mempunyai istri di Indonesia di Gombong Jawa tengah. Akhirnya kisah cintanyapun berlanjut dan pada tahun 1990 diadakan upacara pernikahan di tempat MJTN di kecamatan Ringinrejo Kediri. Pernikahan diselenggarakan dengan cukup mewah dan saat itu masyarakat merasa kagum dan menganggap MJTN adalah salah satu orang kaya di kampung. Lambat laun rumah yang sederhana di bangun menjadi mewah saat itu dan berlantai 2 pula. Memiliki kendaraan berupa mobil, truck, sepeda motor bahkan sebelum listrik masuk desa sudah memiliki mesin diesel yang mampu menerangi hampir seluruh kampung serta memiliki pembantu tidak hanya satu. Semua keluarga dibantunya dengan dibangunkan rumah untuk adiknya dan dibiayai kakaknya untuk mendirikan usaha yang meskipun itu haram. Dalam kurun waktu 15 tahun MJTN dan suaminya mengalami masa kejayaan dan ujian datang pada saat kejayaan tersebut. Satu persatu truck yang dimiliki yang digunakan untuk mengankut buah sering rusak dan bahkan kecekakaan yang menewaskan orang yang ditabraknya dan berurusan dengan polisi di jawa tengah, mobil yang baru di beli beberapa hari tanpa sebab yang jelas terbakar di garasi rumah yang rencana hendak digunakan untuk ke pantai popoh membeli ikan. Mengankat anak yang dalam hidupnya di manja dan dewasanya menyusahkan orang tua, penghianatan dari orang-orang yang berada didekatnya dan manajemen keuangan yang tidak jelas catatannya. Serta masalah keluarga yang seharusnya tudak terjadi yang mengakibatkan suaminya, pembantunya pergi meninggalkannya. Al akhir hancurlah semua kekayaannya dan yang tertinggal hanya satu sepeda motor, rumah dan tanah sisa pembeliannya dahulu.
Kini MJTN hidup bersama dengan anaknya yang suka membantah perintah orang tuanya, mencuri menjadi hobinya yang sangat meresahkan. Pernah mencuri di swalayan dan barang milik saudara ibunya serta beras yang dapat untuk makan dan perabot lainnya ludes di jualnya. MJTN sekarang bukan MJTN yang dulu, sekarang ia bekerja ikut orang di pasar Sambi memjadi buruh warung ditempat orang dan dengan kerja yang dari jam 4 pagi hingga jam 6 malam dengan penghasilan yang pas-pasan dan meskipun demikian disyukurinya dengan sangat bersyukur karena pernah merasakan menjadi orang kaya.          
Menurut kacamata Allah
Sebut saja namanya AHSLH adalah seorang guru di madrasah ibtidaiyah di kampung yang sama dengam MJTN. Dalam kesehariannya beliau mengajarkan ilmu agama dan selalu ramah kepada setiap murid-muridnya, rumah yang dimiliki sejak dahulu terbuat dari bambu hingga akhir ajal menjemputnya pada pertengahan tahun 2015 lalu dalam kondisi sakit yang cukup parah. Selain di sekolah AHSLH juga mengajar dirumahnya murid-murid yang banyak bersama anaknya yang juga menjadi guru madrasah yang sama. Dalam masa hidupnya disenangi masyarakat dan dalam akhir hidupnya disholati 2 kali dengan penuh sesak di rumahnya dan diantarkan ke kubur dengan pengantar yang jumlahnya ratusan orang. Maha Besar Allah dan semoga di terima amalnya.  Orang inilah yang menurut kitab Allah adalah orang yang kaya, bukan kaya akan harta tetapi kaya akan ilmu dan bermanfaat untuk agama dengan mengajarkan kepada generasi muda supaya lebih beragama.
Saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah, marilah kita sibukkan diri dengan membuat suatu karya yang berguna untuk semua dan meninggalkan kebaikan untuk anak cucu kita kelak. Berbaiklah kepada sesama meskipun kebaikanmu dibalas dengan kejahatan. Perbanyaklah ilmumu dan anak cucumu karena ilmulah yang akan menyelamatkannya dari kemiskinan dan kebutaan akan dunia.
Janganlah kalian menjadi orang yang “ Miskin menjadi kaya, kaya menjadi miskin “ tetapi jadilah “ Miskin menjadi kaya, dan kaya semakin kaya ilmu dan berguna                                
Kediri, 27 juni 2015
Karya : Slamet bin Munadji  
Dusun Kalilanang RT 04/RW 07 Desa Selodono Kecamatan Ringinrejo Kab. Kediri Jawa Timur Indonesia                                                                                                                                                                                                 

AMONG SI TUKANG SAYUR DESAKU






AMONG SI TUKANG SAYUR DESAKU

Dusun Kalilanang Desa Selodono Kecamatan Ringinrejo Kab. Kediri adalah Dusun yang jumlah penduduknya cukup padat. Mata pencaharian dari setiap warga berbeda-beda, ada yang Jualan pentol, Jualan kebutuhan pokok, beternak unggas, kesawah, kerja di pabrik, di warung dan juga ada yang pengangguran. Salah satu pengangguran saat ini adalah saya sendiri. Kenapa saya menganggur? Karena di tempat kerja saya yang sebelumnya hasil kerja keras saya tidak dihargai sedangkan istri, anak dan keluarga lainnya sangat mengharapkan saya pulang membawa rizki. Namun dalam kisah saya kali ini bukanlah soal saya yang menganggur. Tetapi saya manfaatkan waktu nganggur di bulan puasa ini tepatnya tanggal 11 ramadhan 1436 H ini untuk menceritakan sebuah kisah perjalanan hidup seorang tukang sayur “ Among “ namanya.
Al kisah
Among adalah salah satu putra kalilanang dari keluarga sederhana yang penuh kerja keras. Ayahnya bernama bapak Soim dan Ibunya bernama Bek Waroh panggilan akrapnya. Ayah Among dahulu adalah pedagang sayur pertama yang berjualan di desaku sebagai tukang Etek panggilannya. Dalam berjualan menggunakan sepeda kayuh dan disetiap memanggil pelanggannya menggunakan bahasa pantun dengan suara keras dan lucu menurut warga, sehingga dapat menarik perhatian warga untuk membeli sayur mayur dan kebutuhan pokk lainnya yang ada di tempat pak soim. Al hasil lambat laun usahanya membuahkan hasil. Sedang ibunya Among adalah Penjual Jajanan di sekolah MI Al-Huda dimana saya dahulunya belajar di situ selama 6 tahun. Saya sering ketemu bek waroh karena saya sering jajan di tempatnya dan anaknya yang bernama Anwar adalah teman sekelasku. Kami sering bermain bareng dan belajar kelompok bareng. Among dalam keluarganya masih mempunyai adi perempuan pula yang juga akan mewarisi sifat berdagang keluarganya. Kembali kepada kisah Among, rutinitas Among dalam berjualan inilah yang membuat warga suka membeli dagangannya. Among setiap pagi antara pukul 03.00 WIB berangkat menuju ke pasar sambi yang jaraknya kurang lebih 5 km dari desa kami. Dengan mengendarai Tosa (motor roda tiga) selalu terdengar di telinga masyarakat yang di lewati kendaraan Among yang menandakan Among berangkat ke pasar dan waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Bagi yang rajin ibadah waktu keberangkatan Among ke pasar di syukuri karena dapat membangunkannya di sepertiga malam untuk menjalankan shalat tahajud dan sebagainya.
Di pasar Among membeli sayur mayur dan kebutuhan lainnya yang di perlukan oleh pembellinya setiap hari sehingga diharapkan dagangannya bisa lekas habis dan meraih keuntungan. Setelah dirasa cukup kebutuhan belanja maka saatnya bagi Among untuk menjajakan dagangannya keliling dari pasar samba hingga pasar Karangrejo yang merupakan pasar di mana Among juga membuka lapak di sana. Among sampai di tempat kami antara pukul 05.30 WIB hingga 06.30 WIB kenapa hal itu terjadi? Karena dalam berdagang terkadang pembeli sangat banyak sehingga perjalanannya untuk sampai di tempat kami terhambat dan bila masih pagi sudah datang berarti pembeli berkurang karena ada suatu sebab tertentu. Among kedatangannya sudah di tunggu pembeli yang bertirik-tirik di tepi jalan menunggu kedatangannya. Ada yang sambil olah raga, ada yang membawa cucunya dan ada yang tidak tahan menantinya sehingga menyusul ke tempat di mana saat itu Among berhenti melayani pembeli.
Among dalam berjualan sabar menghadapi pembelinya dan kesabarannya inilah yang hingga saat ini membuahkan hasil yang suatu kelak dipetiknya bersama keluarganya. Among selalu mengenakan baju berjaket dan sarung yang selalu di sampirkan di pundaknya dan memakai topi ciet dari rajutan benang nilon. Setelah selesai melayani semua pembeli yang ada, maka Among pulang terlebih dahulu untuk menyetok sayuran dan bahan pokok lainnya untuk ibunya yang kini berjualan di rumah, sementara yang di sekolah seperti yang saya ceritakan d gantikan oleh adiknya perempuan. Sedangkan Anwar teman saya merantau ke luar jawa. Biasanya tepat pukul 7.30 – 8.00 WIB Among embali berangkat menuju ke arah pasar Karangrejo untuk berdagang lagi. Dan di dalam perjalanannya masih banyak pembeli yang mengantri menunggu Among lewat untuk berbelanja maupun menjual barang dagangan berupa jamur tiram untuk Amung jual kembali.
Sesampainya di pasar Karangrejo Among memarkirkan kendaraannya tepat di depan lapaknya yang kebetulan berada di luar pasar menghadap ke barat. Ia menurunkan dagangannya yang perlu dan membuka lapaknya serta melayani pembeli yang terkadang sudah mengantri menunggu cukup lama. Siang hari sekitar pukul 13.00 WIB Among baru pulang istirahat dan mempersiapkan kebutuhan untuk berdagang esok hari. Aktifitas Among di rumah di lingkungan masyarakat adalah sebagai petugas teknisi sound system dalam acara yasinan dan perkumpulan masyarakat lainnya.
Demikian sekelumit kisah teladan orang yang mau berusaha dari usaha yang mendarah daging yang di tanamkan keluarganya. “Among si Tukang sayur Desaku“
Kediri, 28 Juni 2015
Karya : Abina Slamet

BERKIBAR BENDERA LEBARAN DESAKU





BERKIBAR BENDERA LEBARAN DESAKU
Puasa pada tahun 2015 ini memberikan kesan yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya didesaku. Mengapa saya mengatakan berbeda? Karena pada lebaran tahun ini masyarakat sudah memasang bendera sejak awal puasa dengan berbagai corak warna dan tulisan RT/RW lengkap dengan Dusun sampai desanya. Bendera panjang atau sering di sebut umbul-umbul menghiasi di sepanjang jalan di desaku dan akan berlangsung hingga lebaran dan upacara kemerdekaan RI di bulan agustus nanti. Hal ini tidak lepas dari semangat warga yang dirembukkan dengan perangkat desa untuk menciptakan suasana yang berbeda pada lebaran tahun ini dan salah satunya pemasangan umbul- umbul serta takbir keliling desa yang rutin dijalankan dengan dihiasi berbagai warna warni kembang api dan tak lupa takbir yang selalu dikumandangkan di masing-masing kendaraan yang digunakan takbir keliling.
Kembali ke umbul-umbul, umbul-umbul yang dipasang dengan bentuk yang beraneka ragam menandakan bahwa masyarakat kalilanang terdiri dari berbagai lapisan masyatakat dan juga berbagai pekerjaan serta tingkat pendidikan yang dimiliki yang merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Warna-warni umbul-umbul juga merupakan rasa semarak dan kebersamaan umat muslim bahwa tahun ini puasa diawali dengan bersama dari berbagai elemen terkecuali umat islam lain yang jauh disana. Semoga semua kebaikan di bulan ramadhan tahun ini membawa berkah dan warga kalilanang selalu dalam lindungan Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan  kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW serta doa kepada para sahabat serta kaum muslimin seluruh dunia.

Kediri, 27 juni 2015
Karya : Slamet bin Munadji
Dusun Kalilanang RT 04 RW 07 Desa Selodono Kec. Ringinrejo Kab. Kediri Jawa Timur Indonesia.